Museum Lubang Buaya
![]() |
Sejarah Museum Lubang Buaya
Museum Lubang Buaya berdiri dua tahun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Berdasarkan informasi yang tercantum dalam Direktori Museum-Museum di Indonesia (1986), Museum Lubang Buaya berdiri pada pertengahan Agustus 1967.
Museum Lubang Buaya sebetulnya juga dikenal dengan nama Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), Museum Pancasila Sakti, dan Museum G30S/PKI. Nama-nama tersebut disematkan karena museum ini memuat berbagai koleksi nasional terkait peristiwa G30S 1965..
Meskipun museum sudah berdiri sejak Agustus 1967, namun peresmiannya baru dilakukan pada 1 Oktober 1967 bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Peresmian Museum Lubang Buaya dilakukan oleh Presiden Soeharto.
Dasar pendirian Museum Lubang Buaya sendiri berkaitan dengan peristiwa sejarah kelam pada 30 September 1965. Pada saat itu, gerombolan pelaku G30S 1965 melakukan penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal AD.
Peristiwa tersebut menyebabkan 6 orang jenderal dan 1 letnan AD tewas. Mereka yang tewas antara lain Ahmad Yani, MT Haryono, S.Parman, DI Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, Anumerta Suprapto, dan Pierre A. Tendean. Ketujuh korban kini mendapat gelar sebagai Pahlawan Revolusi.
Besarnya dampak dari peristiwa tersebut terhadap Indonesia, membuat Pemerintah Orde Baru memutuskan untuk membangun monumen di lokasi kejadian G30S 1965.
Lokasi yang dimaksud adalah area operasional gerombolan pelaku G30S 1965 sekaligus tempat kejadian penculikan dan pembunuhan para jenderal. Tak hanya itu, wilayah Lubang Buaya juga menjadi tempat ditemukannya jenazah para jenderal di sebuah sumur tua.
Monumen yang didirikan disebut sebagai Monumen Pancasila Sakti. Monumen tersebut didirikan dengan tujuh patung Pahlawan Revolusi yang mengelilingi patung Garuda Pancasila.
Pada awal masa berdiri, Museum Lubang Buaya dikelola oleh 23 orang yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Sri Suko.
Lokasi Museum Lubang Buaya
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Museum Lubang Buaya berlokasi di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Alamat lengkap Museum adalah di Jalan Raya Pondok Gede RT. 4/RW 12, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.
Perlu diketahui bahwa istilah 'Lubang Buaya' bukanlah merujuk pada lubang tempat dikuburnya para jenderal. Lubang Buaya sendiri adalah salah satu wilayah di Jakarta Timur yang sudah ada jauh sebelum peristiwa G30S 1965 terjadi.
Menurut Aqillah Afifadiyah Rahman dalam jurnal Local History and Heritage (2021) Nama Lubang Buaya disematkan oleh tokoh masyarakat kuno bernama Pangeran Syarif (Datok Banjir). Ia diketahui merupakan pengelana sakti yang dipercaya masyarakat mampu melihat hal tak kasat mata.

YYYYY
ReplyDelete